What's Hot

Travel

Love

unyu

Health

Friday, January 2, 2015

Kumulonimbus, Awan Mematikan Bagi Penerbangan

Warna Unyu ~ Hilangnya kontak Pesawat AirAsia QZ5801 kemungkinan besar akibat menghindari awan Kumulonimbus. Menurut pejabat di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awan itu memang berbahaya untuk penerbangan.

Tahukah kamu apa sebenarnya awan Kumulonimbus? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, awan ini adalah awan tebal yg dapat menjulang tinggi menyerupai menara atau gunung, sebagian puncaknya mulus atau menyerupai serabut yang hampir rata.

Kumulonimbus atau sering disebut dnegan cb ini sangat mudah terbentuk di daerah tropis seperti Indonesia. Menurut Yunus Subagyo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, awan ini memang berbahaya bagi penerbangan pesawat.

Menurutnya, awan--yang sangat mudah dikenali dari bentuk dan penampilannya karena memang berbeda dari jenis awan lain--ini identik dengan kemunculan hujan, badai dan petir.

"Awan ini berkumpul dan terus tumbuh vertikal ke atas seperti sebuah menara (tower), bahkan bisa mencapai belasan ribu kaki di atas permukaan laut," kata Yunus kepada CNN Indonesia, Selasa (30/12).

Dalam proses pembentukannya, awan ini banyak mengumpulkan kandungan uap air, sehingga ukuran dan tingginya terus berkembang. Sejauh ini ada tiga tahapan pembentukan awan berbahaya ini.

Pertama, awan ini mulai terbentuk dari air yang menguap karena panas matahari. Uap air ini terus berkumpul dan membentuk sebuah gumpalan Kumulonimbus. Ketika gumpalan terbentuk, awan ini terus tumbuh dan membuat sebuah gerakan vertikal atau vertical draft.

Kedua, ketika awal mulai matang, pergerakan secara vertikal terus menerus terjadi. Awan melakukan towering atau bergerak hingga ketinggian tertentu dan kemudian melebar seperti sebuah landasan.

Dalam tahap ini, awan Kumulonimbus terus mengumpulkan uap air dari permukaan laut. Semakin banyak uap air yang terkumpul, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya petir di dalam awan.

Ketiga, awan Kumulonimbus mulai memproduksi kandungan air. Di sinilah tahap di mana terjadinya hujan, petir, bahkan badai.

Yunus menambahkan secara teori, awan ini juga memiliki sebuah siklus. Awan mulai terbentuk kemudian lambat laun menghilang.

Tapi siklus ini sangat kecil kemungkinannya, karena biasanya awan yang telah terbentuk dan kehilangan uap air ini tidak menghilang sepenuhnya, tapi terpisah dan tercecer di udara.

Seluruh hasil produksi awan ini dapat membahayakan kondisi sebuah pesawat apalagi jika pesawat tersebut memaksa masuk ke dalam awan. Proses pembekuan yang terjadi dapat mematikan mesin pesawat, angin yang kencang bisa menyebabkan turbulensi bahkan menghancurkan pesawat, dan petir bisa menyambar sehingga menyebabkan pesawat terbakar. informasi ini dikutip dari laman CNNIndonesia.com
Comments
0 Comments

Post a Comment

Kuy, Komentar dengan Bijak!

 
Copyright © 2014-2016 Warnaunyu.com - Tempat Baca Anak Muda / Sitemap / Disclimer / Kebijakan Privasi / Kirim Artikel / Kontributor / Pasang Iklan
Powered by Blogger